Monday, April 22, 2024

Planet vs Plastic



Hari ini, masyarakat dunia kembali memperingati Hari Bumi. Hari Dimana isu-isu penting terkait kelestarian alam dan lingkugan kembali digaungkan. “Planet vs Plastic” menjadi tema besar peringatan Hari Bumi di tahun 2024 ini. Karena seperti yang telah kita tahu, plastik merupakan salah satu limbah rumah tangga yang paling sulit terurai. Bukan tidak bisa, bisa… namun sangat sulit dan membutuhkan waktu hingga bertahun-tahun atau bahkan berpuluh-puluh tahun lamanya untuk dapat betul-betul terurai. Dan setelah terurai pun, partikel mikroplastik yang dihasilkan biasanya justru menjadi polusi yang tak hanya mencemari lingkungan namun turut berdampak pada biodiversitas, krisis iklim, hingga kesehatan manusia.


Di Indonesia sendiri, jika kamu berbelanja di minimarket atau swalayan semisal Indomaret atau Superindo misalnya, kamu mesti membeli atau membawa tas belanja sendiri. Karena sudah tidak ada lagi kantong plastik yang disediakan. Maka jika belanjaanmu cukup banyak misalnya,dan tas belanjamu tidak mampu menampung semua belajaan tersebut. Kasir biasanya akan menawarkanmu untuk membeli dus tambahan untuk memuat semua belanjaan tersebut. Tentu perubahan ini tak lantas disambut baik oleh masyarakat. Karena banyak juga yang ternyata lebih senang menggunakan kantong plastik ketimbang tas belanja. Tak sedikit yang bahkan justru meminta kasir untuk mengembalikan kehadiran “kantong plastik” saat mereka berbelanja. Karena kebiasaan untuk membawa tas belanja ternyata bukanlah sesuatu hal yang populer di negeri ini.


Padahal dari sisi kesehatan, setiap kita ternyata berpotensi menelan 5gr partikel plastik setiap minggunya jika kebiasaan menggunakan kantong plastik ini terus berlanjut. Yap, hal ini mengacu pada studi yang dilakukan oleh WWF pada tahun 2019 lalu. Karena berdasarkan data yang ada, setiap tahunnya seluruh penduduk bumi menghasilkan kurang lebih 400 juta ton limbah plastik dari sampah rumah tangga. Angka ini terus meningkat sebanyak 19.000% dalam 100 tahun terakhir. Padahal, hanya sekitar 5-6% dari limbah tersebut yang dapat didaur ulang.


Maka salah satu hal kecil yang bisa kita lakukan sekarang adalah sebisa mungkin mengurangi "konsumsi" plastik. Saat membeli sayur misalnya, bawalah tas belanja sendiri. Karena warung-warung sayur biasanya masih menggunakan kantong plastik sebagai wadah belanjaan. Begitupula dengan warung-warung sembako atau kelontong pinggir jalan yang sayangnya belum terlalu perduli dengan isu ini. Begitupula saat berolahraga, alih-alih membeli air mineral yang dikemas dalam botol plastik, bawalah minum sendiri dengan menggunakan tumbler. Harapannya, produksi limbah plastik dapat berkurang hingga 60% pada tahun 2040 mendatang. Sebab saat ini, jika ingin berkaca pada data yang ada, setiap menitnya 1jt botol plastik terjual dan 5 triliun kantong plastik digunakan setiap tahunnya. Angka yang tentu saja amat mengkhawatirkan. Tak heran jika PBB melalui UNEP (The United Nations Environment Programme) kemudian memberi peringatan bahwa plastik telah dan akan menjadi bagian dari sejarah fosil bumi serta penanda waktu geologi bumi. Tak cukup hanya sekedar mengatakan bahwa kamu prihatin dengan hal ini, karena yang dibutuhkan oleh Bumi adalah action kita. Sekecil apapun itu, buat Bumi terus tersenyum. 


Selamat Hari Bumi :D


Friday, October 27, 2023

Buat Kalian yang Masih Ngeblog, Selamat Hari Blogger Nasonal!


Jane nek tak liat-liat progress update-ku ki lumayan bagus tahun ini. Lha wong agi bulan 10, wes enek 3 postingan kok. Iki nek diurut yo, dari tahun 2020 sampe 2023 menurut hitung-hitungan politik statistik kurvanya cenderung naik. Dari yang awalnya cuma 1 postingan di 2020, naik jadi 2 postingan di 2021, naik lagi jadi 3 postingan di 2022. Lha terus tahun ini pas postingan ini tak publish naik lagi jadi 4 postingan. Wes pokoke, tahun depan targetku 5 postingan lah #SEMANGAT!!!. Berarti kalo mau nandingin intensitas updateku di tahun 2009-2011 minimal butuh 3 dasawarsa lagi hahaha #Gedubrak


Hari ini tuh saya lagi nggak pengen ngebahas apapun sebenernya, cuma entah kok saya tiba-tiba keinget pas tadi nonton badminton france open 2023 kalo hari ini Hari Blogger Nasional. Soale seingetku, Hari Blogger Nasional tuh 1 hari sebelum Hari Sumpah Pemuda. Dan pas barusan tak gugling ternyata bener. Masih tokcer berarti ingetanku wkwkwk


Kalo dulu-dulu tuh menjelang Hari Blogger Nasional biasanya banyak perusahaan atau instansi yang ngadain kompetisi/lomba blog. Ato kadang, ada tema tertentu yang diangkat komunitas regional yang kita janjian buat nulis bareng dari sudut pandang masing-masing. Dan di schedule untuk publish bareng di tanggal 27 Oktober. Lha nek sak iki kang? kurang tau hahaha


Soale andai ada perusahaan yang ngadain kompetisi/lomba blog pun syarate wes mesti nganggo TLD nek sak iki. Metriks DA PA DR UR juga mesti sekian-sekian. Ato gampangnya ya, mereka sebenernya lagi nyari backlink lah dari peserta lomba. Nggak kaya dulu, yang nulis di kompasiana atau blogdetik pun kasarnya masih bisa ikutan. Malah sekarang, yang masih pada aktif di kompasiana pun banyak yang cuma nyari backlink. Baru minggu lalu kayanya saya ngeliat ada yang mosting jasa content placement di kompasiana. 


Komunitas regional juga rata-rata udah pada sepi, banyakan udah pada sibuk sama urusannya masing-masing. Boro-boro buat kopdar, lha wong nge-chat aja bisa setahun sekali pas lebaran doang itupun cuma sticker (mirip group alumni lah) hahaha... Dan kalo tak perhatiin ya, rata-rata sama sih, udah pada males buat mosting. Ada yang domainnya bahkan nggak diperpanjang lagi. Dan kalaupun ada yang masih terus diperpanjang biasanya yang masih pada main AdSense atau Content Placement kaya saya gini hahaha. Itupun, mau saling blogwalking juga agak gimana gitu, lha wong saya nulis artikel job mereka juga nulis artikel job apa yang mau dikomen haha. Lha klo dulu kan, saya mosting keseharian, mereka juga mosting keseharian. Yo seru aja gitu buat komen-komenan. Po mneh nek wes main ke blog'e kang rawins wahhh enek ae bahasan sing seru-seru di hutan. Lha ini, saya nulis job mandalika, mereka juga nulis job mandalika yo wes podo-podo intuk'e.


Tapi yo tetep disyukuri sih, minimal otak nggak tumpul-tumpul banget karena tiap bulan mesti ada yang ditulis buat mancing advertisers wkwkwk. Bener lho, kalo nggak ada AdSense sama Job-job content placement aku dewe yo wes pensiun koyoe. Lha mo ngapain? wong zamane wes video kok. Aku yo kadang mikir, iki nek tak tulis po yo jek enek sing moco. Lha nek di kon melu gawe video diriku nggak bakat blas buat nge-vlog. Mo ngomong apaan didepan kamera? hahaha... Paling yang masih bisa tak ikutin ya, jepret-jepret foto buat di jual di ShutterStock lah. Ato manfaatin AI buat ini itu. Sisanya, nyerah wes. 


Yo tenan sih, zamane wes berubah. Si mbah jek nge-gratiske blogspot ae aku wes sujud syukur. Yo minimal nggak perlu beli domain baru dan nambah hosting buat DJ Site hahaha 


Wes lah, pokoke Selamat Hari Blogger Nasional 2023 buat semua yang masih terus ngeblog, terlepas apapun tujuannya. 


Harapannya kebetulan nggak ada, takute kakehan harapan malah nggak ada yang terwujud lagi wkwkwk... 


Dan buat yang nanya, kenapa kok gambare hutan. Jadi gini, tadi tuh saya ngetik blogger di templatenya canva, lha kok yang muncul malah gambar ini. Setelah tak pikir-pikir lagi yo mungkin karena tadi aku sempet bahas tentang hutan sama kang raw kali ya dan mungkin juga jembatan tanpa ujung tuh gambaran perjalanan ngeblog kita yang mestinya nggak ada ujungnya alias jangan dulu pensiun. Mungkin lho ya, mungkin hahaha


Terakhir, ada yang masih inget sama kebiasaan lama saya tiap kali mosting? Hell yeahhh,


Cheeerrrssss (Glek... glek... glek...)




Thursday, October 19, 2023

Mental Health, Salah Satu Syarat Utama Jika Indonesia Ingin Meraih Bonus Demografi di Tahun-tahun Kedepan


Pagi ini, saya nggak sengaja nonton tanya jawab antara salah satu pasangan calon presiden dan wakil presiden tertentu dengan audiens yang hadir. Dan disitu ada salah satu audiens yang nanya gini, "Gimana tanggapan bapak terkait mental health, karena salah satu syarat Indonesia bisa meraih bonus demografi adalah jika secara mental masyarakatnya bisa dikatakan sehat". Jujur ya, saya yang awalnya nonton sambil nyender, sampe agak negapin badan dikit karena pengen tahu jawabannya. Dan disitu pak capres nyeritain tentang diskusinya disalah satu podcast. Dimana ada salah satu penyintas mental health yang bilang gini ke dia, "Pak, kesehatan mentality super serius". Alasannya panjang lah ya. Intinya pak capres, ngasih 3 point utama terkait hal ini: 


1. Parenting dirumah

2. Bimbingan konseling disekolah

3. Fasilitas kesehatan mental dari pemerintah


Dan ini sebetulnya yang pengen saya bahas di postingan ini. Dan saya suka ketika dia bilang "kami nggak bisa sendiri". Of course, pola asuh orang tua akan sangat menentukan mental anak. Dan saya nggak akan bahas point yang ini, karena tiap orang tua pasti punya pola asuh yang berbeda yang mereka "anggap baik" untuk anak-anaknya. Yang saya mau bahas adalah point kedua dan ketiga. 


Saya inget, ketika sekolah dulu ada mata pelajaran BP/BK di sekolah saya (Budi Pekerti/Bimbingan Konseling), materi pelajarannya hampir-hampir mirip sama PMP/PKN/PPKN or whatever lah ya namanya apa sekarang, cuma fokusnya lebih kepada budi pekerti siswa. Dan biasanya ya, zaman itu kalau ada anak yang berantem disekolah, tawuran, ngerokok di kamar mandi sekolah (macem pak Alkatro pas jek nom), ato ngelanggar tata tertib sekolah ujung-ujungnya mesti masuk ruang BP untuk nerima sanksi dari pak rektor HB7 guru BP. Masalahnya, zaman itu BK alias bimbingan konseling cuma sekedar pelengkap aja. Dan kalau guru BP udah bener-bener lepas tangan siswa biasaya "akan dikembalikan kepada orang tua/wali murid. Nggak tau sih, sekarang gimana. Cuma kalo ngeliat berita tentang maraknya kasus bullying disekolah rasa-rasanya kok yo jek podo ae. Malah makin parah koyoe, aku malah ragu kedepan guru-guru bakal berani negur siswa kalo gini terus. Bener lho, nek zamanku ndisik mbok yo arep di lempar penghapus kayu po di tempeleng guru, nggak no siswa sing wani njawab. Lha sak iki? Telat masuk kelas, ditegur guru dikit langsung lapor bapak'e. Kek wong tuone podo bapere langsung dateng nggowo ketapel po arit ke sekolah. Biyuhhh, nek aku gurune... langsung tak kon ngajar dewe nang ngomah.


Lanjut, dan point ketiga ini menarik. Karena sebelum zaman pak Jokowi fasilitas kesehatan mental yang "bisa dimanfaatkan secara gratis" tuh rasa-rasanya belum ada. Beda sama sekarang, mereka yang perlu konsultasi dengan psikolog atau psikiater tinggal dateng ke puskesmas bawa BPJS, dan kalau sekiranya perlu akan dirujuk ke RS besar untuk ketemu sama psikiater yang praktik di RS tersebut. Dan sejauh yang saya tahu ini gratis. Dan menurut saya, menurut saya lho ya fasilitas kesehatan mental yang ada sekarang udah cukup baik. Justru yang kurang tuh edukasinya. Selama masih ada masyarakat yang beranggapan kalau datang ke psikiater = orang gila/kurang beriman. Sebagus apapun fasilitas kesehatan yang dibuat pemerintah akan tetap sia-sia. Saya kenal dengan beberapa orang yang saya tau mereka ngalamin gangguan mental health, tapi keluarganya berusaha mengatasi masalah ini dengan cara yang salah. Dalam hal ini, keluarganya nggak salah. Karena mereka belum tentu mudheng kalau yang dihadapi sama anggota keluaganya ini adalah gangguan mental health. Karena "bagi mereka", sulit untuk ngebedain mana gangguan mental health dan mana gangguan roh jahat.


So, balik lagi sih ya, point ketiga nggak akan pernah jalan kalau point pertama dan kedua nggak jalan, Dan bener, ujung-ujungnya balik lagi ke pola asuh orang tua. Dimana para orang tua inilah yang mesti bener-bener diedukasi tentang pentingnya mental health. Bahkan kalau bisa, saya sih berharapnya pemerintah bakal ngadain semacam kegiatan check-up rutin agar masyarakat bisa meriksain kesehatan mental mereka. 


Itu aja sih...


DJ Site - Since 2009 Until Now

Creative Commons License
Blog Content by Ferdinand is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.

Based on a work at https://dj-site.blogspot.co.id/.

Themes by blogcrowds. Design With ❤ for Blogger Serabutan